Welcome Porter Gunung Merbabu, Indonesia

PorterGunungMerbabu PorterMerbabu.com adalah salah satu layanan guide, porter dan paket pendakian gunung yang melayani paket pendakian gunung di seluruh Indonesia. Untuk konsultasi pendakian, penginapan, transportasi, simaksi / tiket masuk silahkan untuk menghubungi admin.

Advertisement

Butuh Guide? Porter? Penginapan? Villa? Transportasi? Simaksi Online? Hubungi +62 85 643 455 685

Paket Merbabu, Mengenali Merbabu Lebih Dekat















Paket Pendakian Gunung Merbabu, Porter Selo, Suwanting, Wekas, Chuntel, Thekelan


Paket Merbabu, Mengenali Merbabu Lebih Dekat



Gunung Merbabu merupakan gunung api yang bertipe Strato yang di cap dengan keangkran Gunung Merbabugunung tertinggi di jawa tengahgunung
api yang bertipe Strato (tatap Gunung Berapi) yang terletak secara
geografis pada 7, 5° LS dan 110, 4° BT. Secara administratif gunung ini
berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan
Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan, Kota Salatiga
dan Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara, Provinsi Jawa Sedang.




Gunung Merbabu dikenal melalui
naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung atau Gunung
Pamrihan. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah
disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi,
“merbabu” berasal dari gabungan kata “meru” (gunung) dan “abu” (abu).
Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.




Gunung ini pernah meletus pada tahun
1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tapi
belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih jauh. Puncak gunung
Merbabu berada pada ketinggian 3. 145 meter di atas permukaan air
laut. Gunung Merbabu punya kawasan Hutan Dipterokarp Bukit, Hutan
Dipterokarp Atas, Hutan Montane, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung.




Kisah Misteri Gunung Merbabu Dan Keangkeranya


Gunung Merbabu cukup terkenal sebagai
ajang kegiatan pendakian. Medannya tak terlalu berat tetapi potensi
bahaya yang wajib diperhatikan pendaki adalah udara dingin, kabut tebal,
hutan yang lebat tetapi homogen (hutan tumbuhan runjung, yang tak cukup
mendukung sarana bertahan hidup atau survival), serta ketiadaan sumber
air. Penghormatan terhadap tradisi warga setempat juga perlu menjadi
pertimbangan.




Kopeng Thekelan
– Dari Jakarta bisa naik kereta api atau bus ke Semarang, Yogya,
atau Solo. Dilanjutkan dengan bus jurusan Solo-Semarang turun di kota
Salatiga, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari Yogya naik bus ke
Magelang, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari kopeng terdapat
banyak jalur ke ke Puncak, tetapi lebih baik melewati desa tekelan
karena terdapat Pos yang bisa memberikan informasi maupun berbagai
bantuan yang diperlukan. Pos Tekelan bisa ditempuh melalui bumi
perkemahan Umbul Songo.




Menurut cerita dari beberapa sumber di
tempat yang namanya menyeramkan itu gak ada yang istimewa saat
siang hari, hanya ada pohon besar maupun kecil yang tumbuh di
perbukitan serta rimbunnya semak belukar. Tetapi, saat malam
hari suasana tempat itu menjadi berubah yakni perkembangan suhu
udara secara tiba-­tiba menjadi sangat dingin dan terdengar adanya
keramaian dsi sesuatu tempat.




Di bumi perkemahan Umbul Songo Anda bisa
beristirahat menunggu malam tiba, karena pendakian akan lebih baik
dilakukan malam hari tiba dipuncak menjelang matahari terbit. Andapun
bisa beristirahat di Pos Thekelan yang menyediakan tempat untuk tidur,
terutama bila tak membawa tenda. Bisa juga berkemah di Pos Pending
karena di 3 tempat ini Anda bisa mendapatkan air bersih.




Masyarakat di sekitar Merbabu mayoritas
beragama Budha sehingga akan anda temui beberapa Vihara di sekitar
Kopeng. Penduduk sering melakukan meditasi atau bertapa dan banyak
tempat-tempat ke puncak yang dikeramatkan. Pantangan bagi pendaki untuk
tak buang air di Watu Gubug dan sekitar Kawah. Juga pendaki tak
diperkenankan mengenakan pakaian warna merah dan hijau.




Pada tahun baru jawa sesuro penduduk
melakukan upacara tradisional di kawah Gn. Merbabu. Pada bulan Sapar
penduduk Selo (lereng Selatan Merbabu) mengadakan upacara tradisional.
Anak-anak wanita di desa tekelan dibiarkan berambut gimbal untuk
melindungi diri dan supaya mendapatkan keselamatan. Perjalanan dari Pos
Tekelan yang berada di sedang perkampungan penduduk, dimulai dengan
melewati kebun penduduk dan hutan pinus. Dari sini Anda bisa menyaksikan
pemandangan yang sangat indah ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening.




Di Pos Pending Anda bisa menemukan mata
air, juga Anda akan menemukan sungai kecil Kali Sowo. Sebelum mencapai
Pos I Anda akan melewati Pereng Putih Anda harus berhati-hati karena
sangat terjal. Kemudian Anda melewati sungai kering, dari sini
pemandangan sangat indah ke bawah melihat kota Salatiga terutama di
malam hari.




Dari Pos I Anda akan melewati hutan
campuran ke Pos II, ke Pos III jalur mulai terbuka dan jalan mulai
menanjak curam. Anda mendaki gunung Pertapan, hempasan angin yang
kencang sangat terasa, apalagi berada di tempat terbuka. Anda bisa
berlindung di Watu Gubug, sebuah batu berlobang yang bisa dimasuki 5
orang. Konon merupakan pintu gerbang ke kerajaan makhluk ghaib.




Bila ada badai sebaiknya tak melanjutkan
perjalanan karena sangat berbahaya. Mendekati pos 4 Anda mendaki Gn.
Watu tulis jalur agak curam dan banyak pasir maupun kerikil kecil
sehingga licin, angin kencang membawa debu dan pasir sehingga harus siap
menutup mata bila ada angin kencang. Pos IV yang berada di puncak Gn.
Watu Tulis dengan ketinggian mencapai 2. 896 mdpl ini, disebut juga Pos
Pemancar karena di puncaknya terdapat sebuah Pemancar Radio.




Ke Pos V jalur menurun, pos ini
dikelilingi bukit dan tebing yang indah. Anda bisa turun ke kawah
Condrodimuko. Dan di sini terdapat mata air, bedakan antara air minum
dan air belerang. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan
yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini
dinamakan Jembatan Setan. Kemudian Anda akan tiba di persimpangan, ke
kiri ke Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan ke puncak Kenteng
Songo (Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.




Dari puncak Kenteng songo Anda bisa
memandang Gn. Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat,
terlihat dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn. Sumbing dan Sindoro
yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di
daki. Lebih dekat lagi tampak Gn. Telomoyo dan Gn. Ungaran. Dari
kejauhan ke arah timur tampak Gn. Lawu dengan puncaknya yang memanjang.




Ke Puncak Kenteng Songo ini jalurnya
sangat berbahaya, selain sempit hanya berkisar 1 meter lebarnya dengan
sisi kiri kanan jurang bebatuan tanpa pohon, juga angin sangat kencang
siap mendorong Anda setiap saat. Di puncak ini terdapat batu kenteng per
lumpang per berlubang dengan jumlah 9 menurut penglihatan paranormal.




Menuruni gunung Merbabu lewat jalur ke
Selo menjadi pilihan yang menarik. Anda akan melewati padang rumput dan
hutan edelweis, juga bukit-bukit berbunga yang sangat indah dan
menyenangkan seperti di film India yang sangat menghibur Anda sehingga
lupa akan segala kelelahan, kedinginan dan rasa lapar. Disepanjang jalan
Anda bisa menyaksikan Gn. Merapi yang kelihatan sangat dekat dengan
puncak yang selalu mengeluarkan Asap.




Anda akan menuruni dan mendaki beberapa
gunung kecil yang dilapisi rumput hijau tanpa pepohonan untuk berlindung
dari hempasan angin. Disepanjang jalur tak terdapat mata air dan pos
peristirahatan. Kabut dan badai sering muncul dengan tiba-tiba, sehingga
sangat berbahaya untuk mendirikan tenda.




Jalur ke Selo ini sangat banyak dan tak
ada rambu penunjuk jalan, sehingga sangat membingungkan pendaki. Banyak
jalur yang sering dilalui penduduk untuk mencari rumput dipuncak gunung,
sehingga pendaki akan sampai diperkampungan penduduk. Sambutan yang
sangat ramah dan meriah diberikan oleh penduduk Selo bagi setiap pendaki
yang barusan turun Gn. Merbabu. Apabila Anda tak bisa berbahasa jawa
katakan saja terima kasih.




Dari Selo bisa dilanjutkan dengan bus
kecil jurusan Boyolali-Magelang, bila ingin ke yogya ambil jurusan
Magelang, dan bila akan ke Semarang atau Solo ambil jurusan Boyolali.




Jalur Wekas – Tim
Skrekanek yang berjumlah 5 orang (Steve, Sigit, Bowo, Hari, Bayu)
pertengahan Maret 2005 melakukan pendakian Gunung Merbabu melalui Jalur
Wekas. Untuk ke ke Desa Wekas Anda wajib naik mobil Jurusan Kopeng –
Magelang turun di Kaponan, yakni sekitar 9 Km dari Kopeng, tepatnya di
depan gapura Desa Wekas. Dari Kaponan pendaki berjalan kaki melewati
jalanan berbatu sejauh sekitar 3 Km ke pos Pendakian.




Jalur ini sangat terkenal dikalangan
para Remaja dan Pecinta Alam kota Magelang, karena lebih dekat dan
banyak terdapat sumber air, sehingga banyak remaja yang suka berkemah di
Pos II terutama di hari libur. Wekas merupakan desa terakhir ke puncak
yang memakan waktu kira-kira 6-7 jam. Jalur wekas merupakan jalur pendek
sehingga jarang terdapat lintasan yang datar membentang. Lintasan pos I
cukup lebar dengan bebatuan yang mendasarinya. Sepanjang perjalanan
akan menemui ladang penduduk khas dataran tinggi yang ditanami Bawang,
Kubis, Wortel, dan Tembakau, juga bisa ditemui ternak kelinci yang
kotorannya dimanfaatkan sebagai pupuk. Rute ke pos I cukup menanjak
dengan waktu tempuh 2 jam.




Pos I merupakan sebuah dataran dengan
sebuah balai sebagai tempat peristirahatan. Di sekitar tempat ini masih
banyak terdapat warung dan tempat tinggal penduduk. Selepas pos I,
perjalanan masih melewati ladang penduduk, kemudian masuk hutan pinus.
Waktu tempuh ke pos II adalah 2 jam, dengan jalur yang terus menanjak
curam.




Pos II merupakan sebuah tempat yang
terbuka dan datar, yang biasa didirikan sampai beberapa puluhan tenda.
Pada sabtu, Minggu dan hari libur Pos II ini banyak digunakan oleh para
remaja untuk berkemah. Sehingga pada hari-hari itu banyak penduduk yang
berdagang makanan. Pada tempat ini terdapat sumber air yang di salurkan
melalui pipa-pipa besar yang ditampung pada sebuah bak.




Dari Pos II terdapat jalur buntu yang ke
ke sebuah sungai yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar
Wekas sampai desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa
air menyusuri tepian jurang yang mengarah ke aliran sungai di bawah
kawah. Terdapat 2 buah aliran sungai yang sangat curam yang membentuk
air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga menjadi sesuatu pemandangan
yang sangat luar biasa dengan latar belakang kumpulan puncak – puncak
Gn. Merbabu.




Selepas pos II jalur mulai terbuka
sampai bertemu dengan persimpangan jalur Kopeng yang berada di atas pos V
(Watu Tulis), jalur Kopeng. Dari persimpangan ini ke pos Helipad hanya
membutuhkan waktu tempuh 15 menit. Perjalanan dilanjutkan dengan
melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan
kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian Anda akan tiba
di persimpangan, ke kiri ke Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke
kanan ke puncak Kenteng Songo (Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.




Jalur Kopeng Cunthel
– Tim Skrekanek yang berjumlah 5 orang (Maulana, Steve, Iwi, Ardy,
Sigit) pertengahan September 2004 melakukan pendakian Gunung Merbabu
pergi melalui jalur Kopeng – Cunthel, dan turun mengambil jalur Kopeng
Thekelan.




Untuk ke ke desa Cuntel bisa ditempuh
dari kota Salatiga memakai mini bus jurusan Salatiga Magelang turun di
areal wisata Kopeng, tepatnya di Bumi perkemahan Umbul Songo. Perjalanan
dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Jalan setapak berbatu yang agak
lebar sejauh 2, 5 km, di sebelah kiri merupakan Bumi Perkemahan Umbul
Songo. Setelah melewati Umbul Songo berbelok ke arah kiri, di sebelah
kiri merupakan hutan pinus setelah berjalan kira-kira 500 meter di
sebelah kiri ada jalan setapak ke arah hutan pinus, jalur ini ke ke desa
Thekelan.




Untuk ke ke Desa Cuntel berjalan terus
mengikuti jalan berbatu sampai ujung. Banyak tanda penunjuk arah baik di
sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa Cuntel yang
berada di sedang perkampungan ini, pendaki bisa beristirahat dan mengisi
persediaan air. Pendaki juga bisa membeli berbagai barang-barang
kenangan berupa stiker maupun kaos.




Setelah meninggalkan perkampungan,
perjalanan dilanjutkan dengan melintasi perkebunan penduduk. Jalur sudah
mulai menanjak mendaki perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus.
Jalan setapak berupa tanah kering yang berdebu terutama di musim
kemarau, sehingga mengganggu mata dan pernapasan. Untuk itu lebih baik
pendaki memakai masker pelindung dan kacamata.




Setelah berjalan sekitar 30 menit dengan
menyusuri bukit yang berliku-liku pendaki akan tiba di pos Bayangan I.
Di tempat ini pendaki bisa berteduh dari sengatan matahari maupun air
hujan. Dengan melintasi jalur yang masih serupa yakni menyusuri jalan
berdebu yang diselingi dengan pohon-pohon pinus, sekitar 30 menit akan
tiba di Pos Bayangan II. Di pos ini juga terdapat banguanan beratap
untuk beristirahat.


Dari Pos I sampai pos Pemancar jalur
mulai terbuka, di kiri kanan jalur banyak ditumbuhi alang-alang.
Sementara itu beberapa pohon pinus masih tumbuh dalam jarak yang
berjauhan.




Pos Pemancar atau sering juga di sebut
gunung Watu Tulis berada di ketinggian 2. 896 mdpl. Di puncaknya
terdapat stasiun pemancar relay. Di Pos ini banyak terdapat batu-batu
besar sehingga bisa dimanfaatkan untuk berlindung dari angin kencang.
Tetapi angin kencang kadang datang dari bawah membawa debu-debu yang
beterbangan. Pendakian di siang hari akan terasa sangat panas. Dari
lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah, tampak di kejauhan
Gn. Sumbing dan Gn. Sundoro, tampak Gn. Ungaran di belakang Gn.
Telomoyo.




Jalur berikutnya berupa turunan ke Pos
Helipad, suasana dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh
sangat luar biasa. Di sebelah kanan terbentang Gn. Kukusan yang di
puncaknya berwarna putih seperti muntahan belerang yang sudah mengering.
Di depan mata terbentang kawah yang berwarna keputihan. Di sebelah
kanan di dekat kawah terdapat sebuah mata air, pendaki wajib bisa
membedakan antara air minum dan air belerang.




Perjalanan dilanjutkan dengan melewati
tanjakan yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya.
Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian Anda akan tiba di
persimpangan, ke kiri ke Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan
ke puncak Kenteng Songo (Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.




Dari puncak Kenteng songo Anda bisa
memandang Gn. Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat,
terlihat dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn. Sumbing dan Sundoro
yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di
daki. Lebih dekat lagi tampak Gn. Telomoyo dan Gn. Ungaran. Dari
kejauhan ke arah timur tampak Gn. Lawu dengan puncaknya yang memanjang.



Sumber,

https://toplintas.com



Call Center



085.643.455.685


D72E559E / 7A722B86



#porter
#guide #pemandu #transport lokal #merbabu #kopeng #chuntel #wekas #selo
#gancik #grenjeng #suwanting #jalurbukatutup #gunungterindah #gunung
pemula #thekelan

Posting Komentar

0 Komentar

Editors Pick

4/recent/post-list

Follow Us On Instagram

Costumer Service

Hubungi kami di nomor +6285 643 455 685 atau +6281 393 996 754 ( chat only )

Chatt Admin